Thursday, April 21, 2011

HALF MAN - HALF PRICE STORE






PENG SHUILIN is 37 and 78cms high. He was born in Hunan Province , China. In 1995 in Shenzhen, a freight truck sliced his body in half; his lower body and legs were beyond repair. Peng spent nearly two years in hospital undergoing a series of operations to re-route nearly every major organ and system in his body. He kept exercising his arms, building up strength, washing his face and brushing his teeth…and survived against all odds.



Peng has astounded doctors by learning to walk again after a decade. Considering his plight, doctors at the China Rehabilitation Research Centre in Beijing devised an ingenious way to allow him to walk on his own, creating a sophisticated egg cup-like casing to hold his body, with two bionic legs attached. It took careful consideration, skilled measurement and technical expertise. Peng has been walking the corridors of Beijing Rehabilitation Centre with the aid of his specially adapted legs and a re-sized walking frame.

RGO is a Reciprocating Gait Orthosis attached to a prosthetic socket bucket. There is a cable attached to both legs so when one goes forward, the other goes backwards. Rock to the side, add a bit of a twist and the leg without the weight on it advances, while the other one stays still, giving a highly inefficient way of ambulation. Hospital Vice-President Lin Liu said: “We've just given him a check-up; he is fitter than most men his age.”

Peng Shuilin has opened his own bargain supermarket called the Half Man-Half Price Store. The inspirational 37-year-old has become a businessman and is used as a role model for other amputees. At just 2ft 7inches tall, he moves around in a wheelchair giving lectures on recovery from disability. His attitude is amazing and he doesn't complain. “He had good care, but his secret is cheerfulness. Nothing ever gets him down.”

You have a whole body. You have feet - now you have met a man who has no feet. His life is a feat of endurance, a triumph of the human spirit in overcoming extreme adversity. 

The ‘subtle as a sledge hammer’ message in this? Next time you want to complain about something trivial…don't. Remember Peng Shulin instead.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin kita akan kagum dan terharu melihat kisah dan kehebatan Peng Shulin dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya. tetapi pertanyaannya adalah apakah kita bisa bertahan bila "kita" di posisi Peng Shulin? Pasti Anda sependapat dengan saya bahwa jawabannya sangat tidak mudah.



Dan itu pula yang salah satunya bisa menginspirasi kita. Ketika kita mengalami masa-masa tersulit, baik dalam hal pekerjaan, pribadi, ataupun keluarga, jangan putus asa.

"INI PUN AKAN BERLALU"

Cobalah untuk tidak menggerutu karena itu akan semakin menambah beban kita.

Lihatlah gambar Peng tersebut dan bayangkan bagaimana kira-kira Peng berjuang melawan keputus asaannya yang kehilangan separuh tubuhnya untuk selama-lamanya.

Betapa sangat menderitanya 12 tahun hidup hanya terbaring di tempat tidur dan melawan tekanan psikologis dan fisik yang besar.

Bila Peng bisa tegar dalam keadaannya sekarang, Anda juga pasti bisa.

Tersenyumlah, bersyukurlah dan berpikirlah positif.

Mari senyum ....:)

Katakan kepada diri kita "INI PUN AKAN BERLALU"

Hidup harus terus berjalan. Jangan pernah menyerah!

Tuesday, April 12, 2011

Apakah Arti Kebahagiaan?

Bagi orang miskin
uang itulah kebahagiaan
Bagi orang sakit
kesehatan itulah kebahagiaan
Bagi pemuda lajang
pasangan hidup itulah kebahagiaan
Bagi mahasiswa
gelar sarjana itulah kebahagiaan
Bagi penganggur
pekerjaan itulah kebahagiaan
Bagi yang kebanyakan pekerja
liburan itulah kebahagiaan

Bagi orang tua anak
berbakti itulah kebahagiaan
Bagi orang lumpuh
berjalan itulah kebahagiaan
Bagi orang buta
melihat itulah kebahagiaan
Bagi pemabok
alkohol itulah kebahagiaan
Bagi ibu-ibu kaya
shopping itulah kebahagiaan
Bagi politikus
jabatan dan kuasa itulah kebahagiaan
Bagi selebritis
popularitas itulah kebahagiaan

Semua orang punya definisi kebahagiaan namun sedikit sekali yang mengatakan Hidup dalam kasih dan Rasa syukur itulah kebahagiaan!

Kebahagiaan-kebahagiaan di atas sebenarnya bukanlah kebahagiaan, lebih tepat adalah kesenangan, kepuasan dan kegembiraan yang singkat dan sementara.

Kebahagiaan sejati hanya ada dalam KASIH dan RASA SYUKUR

Hanya KASIH dan RASA SYUKUR yang mendatangkan sukacita, kedamaian dan keceriaan.
Hanya Kasih dan Rasa Syukur yang mendatangkan kebahagiaan sejati dalam hidup

Tersenyumlah utk pagi yg sdh membuka mataMu.
Tersenyumlah utk cinta yg sdh membuka hatiMu.
Hanya bersyukurlah yg membuat segalanya jadi indah...

Monday, March 28, 2011

Sungai yang mengalir

Suatu kala, seorang pemuda sedang berkelana bersama dengan gurunya ke suatu tempat yang cukup jauh. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Karena mereka hanya berjalan kaki, mereka harus beristirahat jika sedang lelah atau mencari tempat menginap jika hari sudah menjelang malam.
Suatu hari, di tengah perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat dan melepas lelah. Mereka saat itu sedang berada di sebuah hutan. Sang guru meminta muridnya untuk mencari air minum.

Pemuda itu kemudian pergi. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah sungai yang airnya cukup jernih. Maka ia pun menuju ke sungai tersebut untuk mengambil air minum.

Tapi sayang, ternyata ada beberapa wanita yang sedang mencuci pakaian di sungai tersebut. Tentu saja air sungai tersebut menjadi kotor dan tidak bisa di minum. Dalam hati ia berkata, "Airnya begitu kotor. Bagaimana mungkin saya memberi air ini pada guru?" Pemuda itu pun bergegas kembali menemui gurunya.

Pemuda itu berkata, "Guru, sebenarnya saya sudah menemukan sungai. Sayang, airnya tidak bisa diambil. Ada orang yang mencuci di sana sehingga airnya menjadi kotor."

Gurunya memberitahu pemuda itu, "Oh, begitu ya. Coba tunggu sebentar dan kemudian pergi ke sana lagi."

Tanpa bertanya, pemuda itu menuruti perintah gurunya yang terkenal bijaksana. Setelah beberapa saat, ia kembali ke sungai tersebut. Setelah tiba, ia memang tidak melihat wanita-wanita yang tadi karena mungkin sudah selesai mencuci. Yang ada hanyalah sekumpulan anak-anak yang sedang mandi. Melihat hal ini, ia segera kembali menemui gurunya.

Ia berkata, "Guru. Tadi saya sudah kembali ke sungai itu. Tapi, anak-anak sedang mandi. Sudah pasti airnya tidak bisa diambil untuk minum. Bagaimana baiknya? Apakah kita melanjutkan perjalanan saja dan mencari air di tempat lain?"

Gurunya tersenyum dan menjawab, "Oh, begitu ya. Coba tunggu sebentar dan kemudian pergi ke sana lagi."

Pemuda itu bingung dan bertanya-tanya mengapa gurunya terus memintanya pergi ke sungai itu padahal jelas-jelas ia tidak akan bisa mendapatkan air untuk diminum.

Namun ia turuti juga apa kata gurunya dan setelah beberapa saat, ia kembali ke sungai tersebut.

Sesampainya di sana, ternyata di sungai itu sudah tidak ada orang. Anak-anak sudah selesai mandi. Ia mendekat ke tepi sungai dan melihat air sungai sudah menjadi jernih. Dengan senyum, ia minum air tersebut dan kemudian memasukkan air ke dalam tempat minum.

Pemuda itu segera kembali dan memberitahu gurunya. Ia berkata, "Guru, ternyata setelah saya kembali ke sungai itu, airnya sudah jernih. Jadi, kita bisa mendapat air minum."

Dengan senyum gurunya bertanya, "Airnya menjadi jernih karena air sungai senantiasa mengalir. Airnya mungkin saja kotor, tapi itu hanya sementara. Setelah beberapa saat air akan kembali jernih karena air terus mengalir. Air kotor mengalir jauh dan digantikan air jernih. Semua ini terjadi dengan sendirinya."

Gurunya melanjutkan, "Begitu juga dengan dirimu. Kamu bisa belajar dari air yang mengalir ini. Setiap kali kamu terganggu oleh banyak pikiran yang rumit penuh masalah, biarkan saja mengalir. Sabar dan beri waktu, maka pikiran tersebut akan hilang dan digantikan dengan pikiran yang lebih jernih. Ini akan terjadi dengan sendirinya."

Pemuda itu berkata, "Terima kasih guru telah memberi saya sebuah pelajaran yang amat berharga."



Pesan untuk pembaca:

Kita sebagai manusia selalu tidak terlepas dari berbagai beban dan masalah. Kadang kala masalah yang sedang kita hadapi cukup rumit sehingga membuat pikiran kita seakan-akan mau 'meledak'.

Semakin dipikir, semakin rumit masalah tersebut. Kadang-kadang kita pasti mengalami hal seperti ini. Namun, pikiran yang kusut tidak akan banyak membantu, malah akan semakin memperumit keadaan. Pikiran yang tenang dan jernih akan membuat Anda lebih bijaksana dalam mengambil keputusan maupun solusi atas penyelesaian masalah tersebut.

Ketenangan pikiran tidak sulit diraih jika kita bersedia membiarkan pikiran kita yang sedang kusut untuk pergi menjauh. Relakan pikiran tersebut lenyap. Sama seperti air yang senantiasa mengalir, pikiran kita juga senantiasa mengalir.

Mungkin saat ini, pikiran kita sedang kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Beri sedikit waktu untuk menenangkan diri. semua akan mengalir dengan sendirinya. Pikiran yang sedang kacau akan digantikan pikiran yang jernih.

Saat pikiran sudah jernih, mungkin akan timbul ide atau bahkan solusi yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dengan munculnya ide atau solusi, masalah kita akan bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Ketahuilah juga bahwa masalah selalu datang dan pergi silih berganti layaknya air yang senantiasa mengalir. Hari ini masalah datang, esoknya beres. Esoknya datang masalah baru dan esoknya beres. Semuanya mengalir. Jika pikiran Anda bisa mengalir bebas seperti air, maka seberat apa pun masalah yang muncul, tidak akan berarti apa-apa. Anda sudah tahu masalah akan mengalir jauh digantikan dengan datangnya solusi.

Tuesday, March 22, 2011

Letter from Sendai

This email from a mailing list was forwarded to me and I thought I would share it with you. It provides a unique description of what life is like for quake and tsunami survivors in Japan on the ground now.
When tragedy strikes, it reminds us of what is really important in life and the little things we once felt we had lost, such as community solidarity and the sight of a carpetful of twinkling stars in the night sky.
Life Lessons from Japan


First email sent by Thich Nhat Hanh, Zen Buddhist Master and founder of Plum Village, France, to friends in Japan. Thich Nhat Hanh is the author of the book “The Miracle of Mindfulness”, and promotes engaged Buddhism.

Dear friends in Japan,
As we contemplate the great number of people who have died in this tragedy, we may feel very strongly that we ourselves, in some part or manner, also have died.
The pain of one part of humankind is the pain of the whole of humankind. And the human species and the planet Earth are one body. What happens to one part of the body happens to the whole body.
An event such as this reminds us of the impermanent nature of our lives. It helps us remember that what’s most important is to love each other, to be there for each other, and to treasure each moment we have that we are alive. That is the best we can do for the dead. We can live in such a way that they feel they are continuing to live with us more beautifully, mindfully and deeply in each of us, tasting every minute
every second that we are still alive and living for them.


Here, at our centres in France and many countries around the world, all of us will continue to chant and send you energies of peace and healing to offer support. We are praying for you with our heart, breath and
with the daily actions with more compassion and understanding and to treat each other with more respect. Thank you for reminding us this lesson.


The second email was sent by a Japanese lady to the Plum Villgae sangha (community of practitioners) in HK
Hello My Lovely Family and Friends,
First I want to thank you so very much for your concern for me. I am very touched. I also wish to apologise for a generic message to you all. But it seems the best way at the moment to get my message to you.
Things here in Sendai have been rather surreal. But I am very blessed to have wonderful friends who are helping me a lot. Since my shack is even more worthy of that name, I am now staying at a friend’s home. We share supplies like water, food and a kerosene heater. We sleep lined up in one room, eat by candlelight, share stories. It is warm, friendly, and beautiful.
During the day we help each other clean up the mess in our homes. People sit in their cars, looking at news on their navigation screens, or line up to get drinking water when a source is open. If someone has water
running in their home, they put out sign so people can come to fill up their jugs and buckets.


Utterly amazingly where I am there has been no looting, no pushing in lines. People leave their front door open, as it is safer when an earthquake strikes. People keep saying, “Oh, this is how it used to be
in the old days when everyone helped one another.”


Quakes keep coming. Last night they struck about every 15 minutes. Sirens are constant and helicopters pass overhead often. We got water for a few hours in our homes last night, and now it is for half a day. Electricity came on this afternoon. Gas has not yet come on. But all of this is by area. Some people have these things, others do not.
No one has washed for several days. We feel grubby, but there are so much more important concerns than that for us now. I love this peeling away of non-essentials. Living fully on the level of instinct, of intuition, of caring, of what is needed for survival, not just of me, but of the entire group.
There are strange parallel universes happening. Houses a mess in some places, yet then a house with futons or laundry out drying in the sun. People lining up for water and food, and yet a few people out walking
their dogs. All happening at the same time.


Other unexpected touches of beauty are first, the silence at night. No cars. No one out on the streets. And the heavens at night are scattered with stars. I usually can see about two, but now the whole sky is
filled. The mountains are Sendai are solid and with the crisp air we can see them silhouetted against the sky magnificently.


And the Japanese themselves are so wonderful. I come back to my shack to check on it each day, now to send this e-mail since the electricity is on, and I find food and water left in my entranceway. I have no idea
from whom, but it is there. Old men in green hats go from door to door checking to see if everyone is OK. People talk to complete strangers asking if they need help. I see no signs of fear. Resignation, yes, but fear or panic, no.


They tell us we can expect aftershocks, and even other major quakes, for another month or more. And we are getting constant tremors, rolls, shaking, rumbling. I am blessed in that I live in a part of Sendai that
is a bit elevated, a bit more solid than other parts. So, so far this area is better off than others. Last night my friend’s husband came in from the country, bringing food and water. Blessed again.


Somehow at this time I realize from direct experience that there is indeed an enormous Cosmic evolutionary step that is occurring all over the world right at this moment. And somehow as I experience the events
happening now in Japan, I can feel my heart opening very wide. My brother asked me if I felt so small because of all that is happening. I don’t. Rather, I feel as part of something happening that is much larger
than myself. This wave of birthing (worldwide) is hard, and yet magnificent.


Thank you again for your care and Love of me,
With Love in return, to you all,
Anne

Sunday, March 20, 2011

Masalah pada Hati

"MASALAH...?"
Jika hati sempit, dunia akan jadi sempit !
Jika hati lapang, dunia akan jadi lapang !

Hati adalah dunia.
Jika hati sumpek, penuh sesak dengan masalah maka dunia akan jadi sumpek, sempit & penuh masalah.

Walaupun dunia luas, tidak akan dirasakan luasnya. Walaupun jalan 2x lebar tanpa rintangan, tidak akan dirasakan kebebasan.

Walaupun mentari bersinar terang namun dilihat kegelapan dimana 2x.

Walaupun alam damai, danau hening, air telaga mengalir tenang namun yg dirasakan adalah kekalutan & kekacauan.

Walaupun cuaca dingin; angin berhembus sejuk namun yg dirasa gerah & panas.

Orang Bijak:
"Jika hati bermasalah, dunia jadi kecil. Jika hati damai, ranjang sempit pun jadi lapang !"
Sesungguhnya dunia besar & luas, masalahnya hanya di hati yg belum lapang.

Sesungguh dunia bebas leluasa, hanya karena belum mau melepaskan belenggu dalam hati.

Sesungguhnya hidup tidak ada masalah, hanya pikiran yg terus mencari masalah...